Entri Populer

Monday, 7 September 2020

Filosofi Lilin

Postingan ini adalah cerita non fiksi yang aku tulis di buku antologi pertama aku bareng teman-teman nulisyuk batch 40 yang bertema Self Talk.

Dulu, aku sangat menyukai filosofi lilin. Lilin akan tetap memancarkan sinarnya, walaupun tubuhnya perlahan terbakar. Lilin akan tetap memberikan cahaya untuk sekitarnya, walaupun perlahan tubuhnya habis menghilang ditelan api. Yang lilin lakukan adalah pengorbanan. Pengorbanan yang manis, demi menjadi penerang dikala gelap.

Saat aku merasa lemah dan sedih, aku selalu mengingat filosofi lilin tersebut. Biarlah aku memendam segala kepedihan yang terjadi dalam hidupku, asalkan orang-orang disekitarku tetap ceria. Biarlah aku menangis sendirian, asalkan orang-orang disekitarku tetap bahagia. Kubiarkan api kecil terus membakar perlahan, asalkan tidak ada yang menangis karena diriku. Tapi ternyata, bara api itu semakin besar. Untungnya aku menyadari bahwa aku mulai terbakar.

Aku menjalani kehidupan bak drama sinetron sejak duduk dibangku kelas lima sekolah dasar. Perpisahan kedua orang tuaku, menjadi awal dari segala yang aku alami selama ini. Aku tidak bermaksud menyalahkan keadaan ataupun keputusan ayah dan ibuku. Namun tidak kupungkiri, menjadi seorang anak broken home bukanlah hal yang mudah. Mungkin ayah atau ibuku mendapatkan kebahagiaan dari kehidupan mereka yang baru. Namun aku sebagai anak, atau mungkin juga kakak dan adikku merasakan hal yang sama, akan tetap mendapatkan akibat dari perpisahan itu. Bahkan hingga aku tumbuh dewasa dan berkeluarga.

Dibangku sekolah dasar, aku sering mengalami hal yang tidak menyenangkan. Baik itu dari teman sekolah, guru, bahkan dari orang tua temanku. Aku mulai dijauhi sahabat-sahabatku karena aku jarang sekali bisa pergi ke kantin dan bermain bersama mereka. Bahkan, mereka secara terang-terangan memintaku untuk keluar dari lingkaran persahabatan . Guruku sering menegurku karna prestasiku yang turun tajam. Aku kerap kesulitan berkonsentrasi saat jam pelajaran berlangsung. Orang tua teman-temankupun beberapa kali membuatku merasa terpojok.

Dulu aku sedih, marah, dan kecewa. Tapi kini aku sadar, apa yang mereka lakukan adalah karena mereka tidak tahu masalahku sebenarnya. Itu semua karena aku diam.

Aku dimasa remaja, merupakan pribadi yang sangat tertutup. Aku senang menyendiri hanya dengan lamunan dan mimpi-mimpiku. Aku selalu menghindar, jika temanku ingin mengunjungi tempat tinggalku. Aku khawatir mereka akan menjauhiku, jika mereka mengetahui latar belakangku.

Hatiku seperti teriris jika melihat keceriaan remaja seusiaku. Terutama saat melihat mereka yang memiliki kehidupan yang normal dan bahagia. Aku juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang-orang sekitarku. Malam-malamku sering dihiasi dengan tangisan tanpa suara. Dan itu semua pun terjadi karena aku diam. Tak ada tempat untuk aku mengadu.

Setelah beranjak dewasa, aku mulai mencoba untuk menerima keadaan diriku sendiri. Aku mulai membuka diri dan berdamai dengan masa lalu. Aku tidak lagi hanya diam. Aku mulai bertindak. Tidak lagi hanya kata iya yang keluar dari bibirku, tapi juga kata tidak dan kenapa. Aku ingin menepis anggapan bahwa seorang anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh itu akan gagal. Aku berkeinginan kuat untuk mengejar mimpi-mimpi aku, meskipun jalan yang aku lalui tidak akan mudah.

Aku sering meninggalkan jam kuliah demi bekerja. Aku harus meminjam catatan-catatan teman sekelasku, demi mengejar ketertinggalanku dikelas. Bahkan aku terkenal sebagai mahasiswi yang selalu ikut ujian susulan, karena jumlah kehadiranku di kampus selalu tidak dapat memenuhi ketentuan untuk ikut ujian.

Aku memiliki banyak sahabat yang mengerti dan menerima kehidupanku di bangku kuliah. Mereka berjasa dalam membuatku terus bertahan melanjutkan kuliah. Hingga akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan. Aku mendapatkan pekerjaan sesuai cita-citaku di masa kecil. Cita-cita yang bahkan aku sendiripun ragu apakah aku bisa menjalaninya.

Disinilah awalnya aku merasa bahwa selama itu aku tidak mempunyai rasa syukur. Kenapa aku selalu bersedih? Padahal Allah mempunyai rencana yang sangat manis untukku. Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk selalu bersyukur, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Aku mulai menerima bahwa setiap manusia punya takdirnya sendiri. Kita tidak dapat memilih di mana kita dilahirkan. Tugas kita adalah berusaha menjadi pribadi dengan versi terbaik yang bisa kita wujudkan. Setidaknya, terbaik untuk diri kita sendiri. Dan yang terpenting, jangan biarkan orang lain menyakiti kita, selama kita benar. Berbicara soal kebenaran bukan berarti egois. Walaupun kebenaran sering kali menyakitkan, tapi sakitnya tidak akan lama. Seiring berjalannya waktu, keadaan akan membaik dan berangsur normal. Aku menjauhi orang-orang yang memberi energi negatif dihidupku. Bukan berarti menjadi pemilih. Tapi aku hanya ingin menyerap energi positif, demi menjadi pribadi yang positif juga.

Aku memutuskan untuk melakukan penyembuhan diri melalui tulisan. Memvisualisasikan kesedihan dan beban kita ke objek lain, ternyata memang berdampak untuk penyembuhan diri. Menuliskan kenangan pahit dan ketakutanku ke dalam bentuk tulisan, membuat hati dan pikiran menjadi jauh lebih ringan. Dan, saat aku membacanya kembali, aku tidak lagi menangisi kenangan itu. Semua jadi terasa biasa saja dan tak lagi menyedihkan.

Aku tak lagi sepenuhnya setuju dengan filosofi lilin. Untuk dapat selalu bersinar dan memberikan cahaya untuk orang-orang disekitar, kita tidak harus terbakar habis seperti lilin. Bahkan lilin akan ditinggalkan begitu saja saat cahayanya sudah tidak dibutuhkan lagi. Butuh keikhlasan dan hati yang sangat luas untuk bisa seperti lilin sepenuhnya. Tapi aku bersyukur, karena dengan mengingat dan meyakini filosofi lilin ini, aku bisa bertahan sekian lamanya.Untuk bisa membuat orang-orang disekitarku bahagia, aku harus menjadi pribadi yang bahagia. Aku harus dapat menyayangi diriku sendiri, untuk bisa menebar kasih sayang ke orang lain. Dan untuk dapat menjadi bahagia, cara paling sederhananya adalah dengan bersyukur. Bahkan di saat-saat sulit sekalipun, pasti ada hal kecil yang dapat disyukuri. Dengan begitu, kesabaran kitapun akan selalu ada. Bersyukur dan bersabar adalah cara termudah untuk bahagia.

Wednesday, 29 July 2020

Hobi Baru saat #dirumahaja

Huwahhh seneng banget bulan ini bisa kembali collab bareng temen-teman dari Bandung Hijab Blogger yang kali ini mengambil tema Finding Hobby in New Normal.

Mengawali tulisan aku kali ini, aku menghindari pembahasan mengenai pandemi ataupun virus bla bla bla ya. Karna terlalu menyedihkan untuk dibahas. Seperti minpi buruk yang kita alami bersama-sama. Intinya, penetapan pandemi menyebabkan kantor aku mulai memberlakukan aturan Work From Home sejak akhir Maret 2020.


Pada awalnya, aku merasa kerepotan saat bekerja dari rumah. Badan malah merasa lebih mudah lelah dan merasa 24 jam itu masih kurang untuk bekerja sekaligus mendampingi anak belajar di rumah. Namun, setelah aku menemukan formula yang tepat dalam memanagement waktu seperti yang aku tulis disini :

Management Waktu saat #dirumahaja
Aku merasa punya banyak waktu luang dan mulai bosan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba dan menekuni hal-hal baru :

1. Usaha Kuliner

Pada awalnya, aku memberanikan diri untuk memulai usaha kuliner ini karna @kreasidya_souvenir, bisnis souvenir pernikahan yang aku rintis sejak 10 tahun lalu harus berhenti sementara waktu karna imbas dari pandemi. Beberapa calon pengantin mengcancel orderan mereka, supplier towel sebagai bahan dasar produk aku harus gulung tikar.

Sedih...banget.. Tapi aku ga boleh berlarut-larut bersedih. Banyak pihak lain yang mungkin lebih merugi dari aku. Akhirnya, aku putuskan untuk banting stir ke usaha kuliner. Akun instagram @kreasidya_souvenir aku rubah menjadi @dapur_kreasidya.

Jujur aja, aku ga mahir membuat kue ataupun makanan lainnya. Namun, dengan berbekal sedikit ilmu dari mamah aku yang memang berpengalaman dalam bidang ini sejak puluhan tahun lalu, aku memberanikan diri untuk memulai.

Dengan modal Oven tangkring pemberian tante aku yang belum pernah aku sentuh sama sekali sejak pertama dikasih sekitar 3 tahun lalu, aku memutuskan untuk menjual kue-kue yang memang aku kuasai pembuatannya. Yaitu Bread Pudding dan Macroni Schotel. Keduanya sangat mudah dibuat dan tidak rentan gagal.

Aku kaget dengan sambutan orang-orang sekitar aku. Sejak hari pertama aku berjualan, pesanan selalu ramai. Aku membuka PO hanya satu atau dua kali seminggu, saat pekerjaan kantor hanya sedikit. Sempat dalam sehari aku bisa mendapatkan omzet hingga 2 juta rupiah. Nilai yang sangat besar buat aku.

Namun karena bulan yang lalu aku sudah mulai kembali Work From Office, dengan berat hati usaha ini tidak aku teruskan. Pesanan yang datang aku forward ke adik aku yang memang menggeluti usaha yang sama.

2. Belajar Kalimba
Setelah harus kembali bekerja di kantor, aku tetap merasa bahwa waktuku masih bersisa banyak. Ya mungkin karna aktifitas hanya sebatas rumah dan kantor saja. Aku mulai merasa bosan. Ada keinginan untuk membeli alat musik keyboard. Yaps, sejak kelas 3 SMA sampe kuliah semester akhir, aku mempunyai pekerjaan sampingan yaitu instruktur keyboard di salah satu Music Course di Bandung.

Dulu, apabila bosan atau sedih, aku akan meluapkannya melalui permainan musik. Mengulik nada-nada dan cara bermain sebuah lagu dapat membuat perasaanku menjadi refresh.

Namun sayangnya, harga sebuah keyboard saat ini cukup mahal. Apalagi ditengah pandemi seperti ini, rasanya tidak bijak jika aku mengeluarkan uang banyak untuk hobi.

Sampai akhirnya aku mengenal alat musik yang bernama Kalimba. Aku belum pernah melihatnya sama sekali sebelumnya. Awalnya, aku tertarik setelah melihat video-video cover song menggunakan Kalimba yang menghasilkan suara yang merdu dan menenangkan. Ditambah lagi dengan kemudahan untuk memainkan alat musik ini dimanapun dan kapanpun.

Kalimba merupakan alat musik perkusi yang merupakan versi modern dari alat musik asal Afrika Selatan, yaitu mbira. Nama lainnya adalah thumbs piano atau "piano jempol" karena dimainkan dengan menggunakan kedua ibu jari yg menekan bagian tuts dari logam untuk menghasilkan nada-nada. Kalimba mulai dikenal oleh banyak orang pada tahun 1960.

Nah sekarang, cara me time termudahku adalah dengan bermain kalimba :-)